Pada suatu hari, hari yang terik, kita berdua berjalan dari kampus menuju kosn tempatku tinggal lama selama masa kuliah, kita tak pernah bermimpi untuk mendapatkan ini itu terlalu dini. Di jaman kuliah dulu, di daerah Purwokerto jalan kaki adalah sebuah hal yang dianggap malu, karena di sana angkot jarang sekali, ada namun keberadaannya sangat jarang, mungkin bisa di hitung angkot lewat 20 menit sekali. Kenapa memalukan karena menandakan kita tidak bisa mengendarai motor atau kita tidak bisa membeli motor. Saya baik-baik saja dengan keadaan tersebut karena perempuan, entah dengan seorang laki-laki di pinggir saya. Tapi sejauh ini, dengan ketiadaan motor pada kehidupan kita tidak banyak mempengaruhi rasa keinginan saya untuk tetap berjalan dengan dia. Meskipun saya pernah berandai-andai, seandainya diantara kita ada yang punya motor kita akan mudah dan murah untuk berjalan-jalan kesana-kemari, tetapi nyatanya pun ketiadaan motor bagi kita tidak menyurutkan kita untuk j...
Saya dilamar oleh seorang lelaki pada Februari kemarin, memang betul tak ada kata-kata yang terlontar dari saya ketika saya ditanya apakah saya betul-betul ingin bersama dia, saya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu, dan saya sekarang mengerti apa arti tersenyum simpul seorang perempuan ketika pada saat prosesi lamaran, yang menandakan dia menerima ingin hidup bersama. Dulu ketika saya masih belum merasakan apa itu pacaran, saya sangat menentang tentang persepsi dimana tanda seorang perempuan menyetujui mau untuk dilamar adalah dengan tersenyum ketika ditanya, karena tidak setiap perempuan menerima lamaran, dan tidak setiap senyuman berati setuju, butuh ketegasan berupa perkataan yang menandakan dia betul betul menerima lelaki yang melamarnya, bagi saya dulu senyuman ketika di lamar bukan sebuah tanda tapi sebuah penghormatan pada lelaki yang melamar. Tetapi sekarang baru saya rasakan arti senyuman simpul itu. Bahwa ternyata memang tak ada kata yang setara d...
Agustinus dalam kisah Titik Nol ini merupakan sentral sudut pandangnya terhadap tempat-tempat yang dia singgahi dan lewati. Seperti para traveler lainnya, Agustinus menceritakan rasa dan perasaannya terhadap apa yang dia lihat, dengar dan rasakan ketika dia melakukan travelling. Ada yang berbeda dari apa yang dinarasikan Agustinus dalam kisahnya di Titik Nol ini. Perbedaan sudut pandang itu lahir dari latar belakang dia sebagai etnis Tionghoa yang mempunyai kehidupan masa lalu di sebuah desa di Lumajang Jawa Timur, tidak hanya itu narasinya dikuatkan dengan ulasan-ulasan yang menarik nalar mengenai sebuah perubahan tempat yang ia kunjungi, kekuatan ulasan itu tentunya dari latar belakang intelektualitas seorang Agustinus itu sendiri yang mampu manangkap fenomena turisme. Saya sendiri baru membaca novel ini sampai halaman 210. Awal membaca, saya merasa alurnya loncat-loncat dari mulai Agustinus pergi ke Tibet, kemudian menceritakan lagi masalalunya ketika dia mulai berangkat se...
Komentar